Segerombolan
Pria misterius berjalan dalam gelap Malam, menyusuri lembah padang rumput dibawah
guyuran hujan dan guntur yang menggelegar bersahutan. Wajah meraka tampak samar
tertutup oleh penampang topi jerami lebar yang menepis hamparan butir-butir air
hujan. Angin badai bertiup kencang menerpa jubah jeraminya, membuatnya
melambai-melambai tak beraturan kearah belakang punggungnya dan sesekali dari
balik jubah jerami itu tampak gagang belati yang diselipkan dipinggangnya. Genangan-genangan
air hujan ditanah bergelombang berombak ditapaki langkah kaki meraka yang berjalan
tenang. Sekelebat kilatan petir menerangi kegelapan malam, seketika itu tampat
terang benderang awan di langit dan permukaan Bumi menampakkan sosoknya
termasuk sosok Gerombolan itu, diikuti suara petir yang berteriak
bersahut-sahutan dan memekakkan telinga. Gerombolan itu menghentikan langkahnya
tiba-tiba, tak seorangpun bersuara dan bergerak, terdiam mematung membaur dalam
sunyi sembari diguyur lebatnya hujan. Seseorang yang berdiri paling depan, pemimpin
Gerombolan itu sedikit memalingkan kepalanya kesamping, dari balik penampang
topi jerami lebar itu matanya sipit melirik ke arah belakang, matanya menangkap
sosok bayangan di kejauhan lembah yang terlihat sedang mengawasinya.
“Bersiaplah
mencabut pedang kalian, Seseorang akan mendekati kita”. Pemimpin Gerombolan berbisik
sembari memegang ujung topinya, “Ini Misi yang penting, ku harap kalian siap bertarung
sampai Mati untukku”.
Disisi
lain sesosok Pria berpakaian serba hitam, bertopeng kucing diwajahnya berdiri
dibawah rindang Pohon sembari bersembunyi dalam bayang-bayang. Rambutnya
berwarna putih keperakan, tinggi badan sedang dan tampak agak kurus. Dipunggungnya
terikat sebuah katana bergagang hitam, panjangnya sedang beserta tas kecil di lingkar pinggang kanan
belakang, tepat diatas pinggul dan Sebuah tas kotak putih di paha kirinya
terlilit kuat oleh kain perban putih. Dibalik lebatnya hujan matanya memandang ke
kejauhan, menatap kearah lembah tempat Gerombolan Pria Bertopi Jerami berdiam.
Beberapa
saat yang lalu Pria bertopeng itu berlari kencang di tengah Hutan yang lebat
dengan nafas tersengal-sengal. Dia Berlari dengan kencangnya, sesekali memanjat
pohon lalu melompat-lompati dahan dan cabang pepohonan dengan lincahnya,
terlihat sedang terburu-buru mengejar sesuatu. Kadang Dia menghentikan
pengejarannya sejenak, berdiam diatas Tanah tempanya berpijak, memandang
sekeliling dari tanah tempatnya berdiri dan berharap menemukan jejak yang
tertinggal dari Seseorang yang sedang dikejarnya namun kembali nihil, tidak ada
apapun selain genangan air Hujan dimana-mana. Ditengah hujan yang lebat dan
tanah yang penuh dengan genangan air sulit memang menemukan sisa jejak tapak
kaki manusia, begitu juga dengan jejak bau tubuh Mereka. Jejak kaki ditanah
akan dengan cepat terhapus Guyuran hujan atau tersembunyikan oleh
genangan-genangan air begitu juga dengan sisa Bau. Dalam kondisi seperti ini hanya
insting dan pengalaman yang bisa digunakan dalam melakukan Misi pengejaran
semacam ini. Lalu tiba-tiba Kilatan petir muncul, Sesaat langit yang gelap
menjadi terang benderang, begitu juga tanah dan pepohonan kemudian Dia tertegun,
teringat akan pengalaman sebelumnya melakukan Misi pengejaran buta seperti ini.
Pria
bertopeng itu kembali melesat berlari dan sesekali melompat menyusuri dahan dan
Cabang pehonan. Badannya basah kucup diguyur oleh Hujan lebat malam itu namun seakan itu tak mengganggunya sedikitpun
dan terus berlari tanpa terlihat lelah ataupun letih, tak berselang lama
kemudian Diapun berhenti. Dihadapannya berdiri kokoh sebuah pohon yang besar
dan tinggi menjulang, tampak itu adalah Pohon yang paling tinggi dan besar di
Hutan itu. Daunnya yang lebat dan batangnya yang besar seakan memperlihatkan
bahwa Pohon itu sudah berumur ratusan tahun. Pria Bertopeng itu kemudia
memanjat dengan cepat lalu melompat tinggi mencapai Cabang terendah pohon itu.
Dia terus melompat menyusuri dahan dan ranting pohon satu persatu hingga tak
berselang lama dia sudah berdiri di Pucuk dahan teratas Pohon itu. Dari atas
pohon terpaan angin lebih kencang menerpa tubuhnya, rambut peraknya
terurak-arik namun keseimbangannya yang baik membuat itu tak masalah untuknya, disana
Dia berdiri terdiam dan menunggu sesuatu. Kilat memancarkan cahayanya sejejap, di
kejauhan, ditengah lembah terlihat sosok Gorombolan tertangkap oleh
penglihatannya dan sesaat kemudian Dia melompat dari Dahan Pohon itu kembali
melanjutkan pengejarannya.
Pria
Bertopeng itu Berlari kencang melesat kearah Lembah tempat Gerombolan itu
terlihat. Ditengah terpaan Hujan dan Angin kencang Dia terus berlari tanpa
henti, Memanjat dan melompati dahan pepohonan, melintasi Sungai lalu hingga
akhirnya berhenti dibawah Pohon yang Rindang menyembunyikan sosoknya dibalik
batang Pohon yang besar. Dari kejauhan Matanya memandang jauh kedepan, kearah
lembah padang rumput tempat Gerombolan Orang yang Dia lihat tadi. Diarah padang
rumput luas, di ujung pandangnya sosok Gerombolan itu tertangkap sedang
bergerak namun sesaat kemudian Mereka terdiam. Dengan tenang Pria Bertopeng itu
mengawasi dengan seksama Gerombolan itu dan sekeliling mereka, memastikan tidak
ada perangkap atau apapun yang dapat membahayakannya. Tangan nanannya dengan
pelan bergerak naik kearah belakang kepalanya, disana tangannya menemukan
gagang katana, menggenggamnya lalu sesaat kemudian Sosoknya menghilang
tiba-tiba.
“Dia
datang! Serang dan Habisi dia!”, Pemimpin
Gorombolan itu berteriak lantang, memberi Komando untuk menyerang.
Gerombolan itu seketikan melempar mantel dan
topinya. Beberapa dari Mereka dengan sigap langsung menarik pedang yang
tersarung di pinggangnya, yang lainnya menggenggam kunai ditangannya kemudian serentak
maju bersaan berlari menyerang Pria Bertopeng yang juga sedang berlari kearah
Mereka. Pertarungan antara Pria Bertopeng dan Gerombolan Misterius pecah tak
terhindarkan, dibawah guyuran hujan dan kilatan petir pertarungan Pria
Bertopeng dan Gerombolan Orang itu terjadi dengan sengitnya, bunyi denting
pedang menjadi irama latarnya disertasi cipratan darah berhamburan kesegala
arah. Sang Pemimpin Gerombolan tetap berdiri diam dibawah guyuran hujan, bersembunyi
tenang dibalik mantel jeramnya sembari melihat pertarungan sengit yang sedang
terjadi saat itu.

Posting Komentar